Berita

Kala Malam, Borobudur Diterangi Tenaga Surya

MAGELANG, alumniITS:
Matahari tak hanya memunculkan keindahan Borobudur di kala ia terbit hingga terbenam. Kekuatan Sang Surya juga menerangi candi Buddha itu kala malam. Melalui 10 panel surya yang dihibahkan Greenpeace.

“Di Candi Borobudur ada 10 panel tenaga surya yang dipasang secara desentralisasi untuk 10 lampu penerangan di Candi Borobudur, jadi setiap titik lampu ada panel tenaga suryanya sendiri,” kata Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Arif Fiyanto, Rabu (24/10).

Dia menjelaskan, kapasitas total listrik yang dipasok 10 panel tenaga surya di Candi Borobudur sebesar 1.200 sampai 2.000 watt. “Ini bisa mengurangi beban biaya listrik di Candi Borobudur,” tambah Arif.

Tak hanya sekedar memasang panel surya, menggandeng Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Greenpeace juga menyelenggarakan kampanye bertajuk “Pemanfaatan Energi Bersih dan Aman untuk Masa Depan”.

Salah satunya dengan membangun Climate Resque Station, bangunan berbentuk bola dunia dengan struktur 4 lantai yang digunakan sebagai museum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang solusi energi terbarukan dan memerangi perubahan iklim.

Arif menjelaskan, rangkaian kampanye energi bersih di Candi Borobudur ini bertujuan untuk mempromosikan, bahwa penggunaan dan pemanfaatan energi terbarukan sangat mungkin dikembangkan di Indonesia. “Hanya saja perlu niat serius dari pemerintah untuk segera mengimplementasikan kebijakan yang mendukung,” kata dia.

Ini wajib untuk diingat: Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi sumber daya alam yang luar biasa berlimpah. Ada tenaga angin, air, matahari, panas bumi, dan masih banyak lagi yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Data pemerintah menunjukkan, penggunaan energi terbarukan di Indonesia baru mencapai angka 5 persen atau setara dengan 1,354 megawatt, dari keseluruhan total sumber energi di negara ini.

Greenpeace dan AMAN mendesak pemerintah Indonesia untuk segera menghentikan ketergantungan terhadap sumber energi fosil seperti batu bara, minyak bumi.

Apalagi, saat ini Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat elektrifikasi terendah di Asia Tenggara. Hanya 69 persen dari total rakyat Indonesia yang sudah menikmati akses listrik, sisanya sekitar 60 juta rakyat Indonesia yang sebagain besar merupakan masyarakat adat masih belum menikmati akses listrik dari negara ini.

“Selain memberikan edukasi pemanfaatan energi terbarukan, program ini juga bertujuan untuk mendesak pemerintah memastikan keadilan energi bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata Abdon Nababan, Sekretaris Jendral AMAN seperti dilansir vivanews.com. (endy – [email protected])