Berita

Jateng Kembangkan Listrik Energi Alternatif

MAGELANG, alumniITS:
Tingginya permintaan listrik di Jawa Tengah membuat pemerintah provinsi Jawa Tengah berencana mengembangkan listrik dari energi alternatif. Saat ini terdapat 1,7 juta pelanggan listrik dengan pertumbuhan 8,7 persen per tahun.

Asisten Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Jateng Sri Puryono meresmikan pemasangan 10 unit lampu tenaga surya yang tersebar di Kompleks Kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia sebagai bentuk kampanye energi terbarukan.

Puryono mengatakan, saat ini kapasitas terpasang di Jawa Tengah telah mampu melistriki Jawa-Bali melalui sambungan interkoneksi. Namun, seiring dengan pertumbuhan permintaan listrik di Jawa Tengah, perlu ditambahkan dengan solusi listrik dari energi terbarukan.

“Kebutuhan listrik sampai saat ini terus bertambah apalagi ada perumahan-perumahan baru, investasi pabrik, merebaknya usaha masyarakat, UMKM dan lainya. Sehingga Pemprov Jateng mencanangkan dan terus menyosialisasikan kampanye dengan slogan ‘Irit Listrik Irit Duit’ di Jateng,” jelas Sri Puryono.

Sampai saat ini, lanjut dia, beban puncak pemakaian listrik di Jateng mencapai 2.988,22 MW sedangkan daya yang terpasang mencapai 7.496 MW yang digunakan untuk interkoneksi jaringan Jawa-Bali.

Puryono menjelaskan, terdapat beberapa energi baru terbarukan yang tersedia di Jawa Tengah dan siap dikembangkan. “Potensi energi terbarukan di Jateng banyak yaitu energi surya atau sinar matahari, termasuk yang sedang berjalan di Karimunjawa, potensi panas bumi yang ada di Gedong Songo, Kabupaten Semarang. Juga di Baturaden, Kabupaten Banyumas ataupun di daerah Guci, Kabupaten Tegal,” tegasnya seperti dilansir merdeka.com, Senin (29/10).

Tak ketinggalan, juga melakukan pembangunan energi mikrohidro (tenaga air), energi bioethanol dan biogas. “Potensi mikrohidro yang menggunakan aliran sungai dan air terjun kecil masih cukup banyak tersebar di desa di Banjarnegara, Banyumas, Pemalang, Wonosobo, Temanggung dan Kebumen. Potensi bioful dari nyamplung, jarak pagar dan bioethanol dari Salak aftur dan singkong. Potensi biogas dari kotoran ternak dan limbah tahu. Potensi gas rawa di Sragen, Magelang, Pemalang dan Banjarnegara,”ujarnya.

Jateng memiliki 4.114 unit PLTS dengan kapasitas 109.500 watt. Tahun 2009 sampai sekarang ada 5 unit yang akan dikembangkan tersebar di Ungaran, Guci dan Baturaden. Kedepan akan dilakukan di Telomoyo.

“Disisi lain, pembangunan desa mandiri energi juga dikembangkan depot biogas, biofuel, gas rawa. Selain PLTS dan PLTMH, PLTD dan pengembangan jaringan listrik desa. Jumlah demplot biogas dan bioethanol maupun biofuel tersebar hampir diseluruh desa Jateng,” pungkas Sri Puryono. (endy – [email protected])