Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

ITS Siap Membantu Uji Sistem KRI Klewang

Surabaya-alumniits.com :

Musibah yang menimpa KRI Klewang beberapa waktu lalu, kuat dugaan akibat kurang didukung dengan sistem dan prosedur baku secara laboratoris. Karena itulah, ITS Surabaya menyatakan kesiapan membantu melanjutkan program tersebut, termasuk dalam mendisain kapal.

Kesiapan tadi dikemukakan langsung pakar laut ITS Dr RO Saut Gurning ST MSc, dalam diskusi pakar di Rektorat ITS Surabaya, awal pekan lalu. “Kami memiliki tim konsorsium kapal perang yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan sejak 2012 dan tim investigasi yang mendapat sertifikasi KNKT,” katanya.

Ditambahkan Saut, ke depan program itu harus dilanjutkan. Namun jangan semata-mata hanya program, melainkan program yang harus berdampak pada dua hal yakni peningkatan kemampuan teknologi bangsa dan penguatan industri perkapalan di sektor hulu.

Ditempat yang sama, anggota Konsorsium Kapal Perang ITS Dr Subchan menegaskan, bahwa terbakarnya KRI Klewang hendaknya tidak membuat pemerintah dan TNI menjadi patah arang. “Yang namanya tahap awal itu selalu ada kecelakaan, karena itu program itu harus terus dilanjutkan, apalagi teknologi yang dimiliki KRI Klewang itu hanya dimiliki 3-4 negara,” katanya. “Namun, terbakarnya KRI Klewang itu harus memberi pelajaran berharga yakni pentingnya “SOP” sejak dari tahap desain, pemilihan material, pengerjaan, hingga uji coba kapal itu,”.

Pihaknya juga berkeyakinan, prosedur sudah benar dan sesuai, namun prosedur yang dilakukan tersebut kurang didukung uji laboratoris secara memadai, sehingga ada tahapan atau bagian yang tidak sesuai standar.

Pernyataan senada diungkapkan ahli permesinan kapal ITS Ir Surjo Widodo Adji MSc FIMarEST yang juga praktisi galangan kapal. “Kapal non-sipil memang memiliki tingkat kerahasiaan tertentu, tapi saya kira proses pengerjaannya harus sesuai ‘SOP’,” imbuhnya.

Ia mencontohkan bahan komposit karbon pada KRI Klewang yang memiliki keunggulan tidak terdeteksi oleh radar musuh itu memang ‘flammable’ (mudah terbakar), tapi kalau proses pembuatannya sesuai ‘rules’ maka tidak mungkin api akan cepat menjalar hingga ludes dalam waktu kurang dari dua jam.

Ketua Pusat Studi Kelautan ITS Aries Sulisetyono ST MA Sc PhD, mengatakan, belum ada kebakaran kapal secepat itu. Karena sebelumnya memang tidak mungkin ada badan kapal yang bisa terbakar begitu cepat.

“Oleh karena itu, perlu dipastikan bahwa pemilihan material sudah sesuai ‘rules’ dan diuji sebelumnya. Kalau diminta, kami dari ITS siap melakukan uji material dan kelaikan, karena kami memiliki laboratorium untuk itu,” katanya.

Tidak hanya itu, peneliti Laboratorium Kehandalan dan Keselamatan Kapal ITS Dr Trika Pitana menilai kebakaran yang terjadi juga menunjukkan tidak adanya koneksi antarkabel dari darat ke galangan dan dari galangan ke kapal.

“Koneksi air dari galangan ke kapal juga tidak cepat, karena itu SOP untuk perencanaan keselamatan dalam pengerjaan kapal itu tidak jalan,” katanya yang juga didampingi ahli keselamatan dan kebakaran ITS, Ir Alam Baheramsyah MSc FIMarEST. (ant/guh)