Rabu, Oktober 23, 2019
Berita

Industri Besi dan Baja Nasional Kian Kompetitif

JAKARTA, alumniITS:
Industri besi dan baja nasional kini kompetitif, setelah pemerintah mengenakan bea masuk anti dumping (BMAD) atas impor produk lembaran besi atau baja dari Cina, Singapura dan Ukraina. Dampak BMAD mampu mendorong persaingan yang sehat antara produk impor dan produksi dalam negeri.

Pengenaan BMAD atas impor produk canai lantaian dari besi atau baja dari tiga negara itu berdasar Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 150/PMK.011/2012 tanggal 1 Oktober 2012.

“Adanya dumping yang dilakukan ketiga negara itu, merugikan industri di dalam negeri. Padahal, industri di dalam negeri yang berinvestasi cukup besar, juga memiliki hak hidup di negara di mana industri tersebut berdiri,” kata Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia, Irvan Kamal Hakim di Jakarta, Rabu (07/11/2012).

Dampak persaingan yang tidak sehat, lanjut dia, selama ini cukup besar jika tidak segera diantisipasi. Mengingat, industri baja di dalam negeri pasti akan mengurangi jam kerja atau tutup, akibat kalah bersaing dengan produk impor yang dijual dengan harga yang lebih murah. “Impor baja yang masuk oke-oke saja sepanjang mereka melakukan fair trade,” ungkap Irvan.

Menurut dia, sikap ini memang sulit diwujudkan karena saat ini di beberapa negara maju dan emerging countries sedang terjadi kelebihan pasokan karena memburuknya perekonomian global serta rendahnya konsumsi domestik mereka.

Tahun 2013, permintaan baja nasional diperkirakan tumbuh 6%-8%, sementara harga baja diproyeksikan akan volatile. Kenaikan itu seiring dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 6,3% pada 2013.

“Kenaikan permintaan itu harusnya diisi oleh produsen domestik. Kami berharap pemerintah berpihak pada industri dalam negeri ,bukan importir atau pedagang,” tambahnya. (endy – [email protected])