Selasa, Oktober 22, 2019
Berita

Indonesia Miskin Teknologi Pendeteksi Gempa

JAKARTA, alumniITS.com – Manajer Nusantara Earth Observation Network (NEOnet) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Agustan mengatakan gempa 6,2 Skala Richter, yang terjadi di Bener Meriah pada 2 Juli, sebenarnya masih ada hubungannya dengan gempa yang terjadi di Aceh 2004 silam.

“Gempa Aceh 2004 lalu memiliki kekuatan besar yang mencapai 9,3 Skala Richter. Jadi energinya tersalurkan. Namun masih ada juga energi yang belum tersalurkan kemudian masuk ke patahan yang ada,” kata Agustan seperti dikutip Antara, di Jakarta, Jumat (5/7).

Di Aceh terdapat tiga patahan yakni patahan Aceh, Seuleumeum dan Batee. Gempa pada Selasa (2/7) terjadi pada patahan Seuleumeum. “Daerah tersebut merupakan daerah patahan gempa. Akibat akumulasi energi yang masuk ke daratan maka terjadi gempa tersebut,” ujarnya.

Ia menyebut di Aceh potensi gempa masih sangat besar, bisa mencapai 7 Skala Richter. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memperkirakan kapan gempa terjadi.

“Teknologi tercanggih yang ada saat ini baru bisa mengetahui terjadi gempa tiga detik setelah kejadian. Itu di Jepang. Kalau di Indonesia paling 10 detik setelah kejadian,” kata pakar Geodinamika ini.

Ia mengimbau masyarakat Indonesia harus siap siaga menghadapi bencana, mengingat Indonesia merupakan negara yang rawan bencana.

Gempa bumi berkekuatan 6,2 SR dengan kedalaman 10 kilometer (km) terjadi di wilayah Aceh pada pukul 14.37 WIB, Selasa (2/7). Pusat gempa di daratan berada 35 km barat daya Kabupaten Bener Meriah atau 43 km tenggara Kabupaten Bireuen, atau 50 km barat laut Kabupaten Aceh Tengah.

Gempa selama 15 hingga 45 detik itu dirasakan sangat kuat oleh warga Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis korban jiwa akibat gempa bumi di Bener Meriah dan Aceh Tengah mencapai 30 orang, sebagian besar adalah lansia dan anak-anak.(endy)