Berita

Energi Terbarukan, Solusi Ketersediaan Listrik Nasional


JAKARTA, alumniITS:
Hasil kajian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  energi terbarukan memiliki keunggulan dalam pemanfaatannya, antara lain ramah lingkungan, dapat tersedia di lokasi di mana dibutuhkan, dapat dijaga keberadaannya. Karenanya pemanfaatan energi terbarukan penting untuk ditingkatkan.

“Dalam hal pemanfaatan energi terbarukan, mengkonversi sumber energi ini menjadi tenaga listrik, adalah cara yang paling efektif,” papar Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi (PTKKE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), MAM Oktaufik dalam keterangan di Jakarta, Selasa (27/11).

Dalam bentuk tenaga listrik, lanjut Oktaufik, energi terbarukan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, baik untuk tenaga penggerak, penerangan lampu, sumber energi berbagai peralatan industri dan rumah tangga, dan dalam hal tertentu dapat disimpan dengan perangkat energy storage. Hal tersebut memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam pemanfaatan energi.

“Sudah sejak 30 tahun yang lalu BPPT mencoba melakukan berbagai upaya terkait pengembangan energi baru terbarukan. Beberapa energi terbarukan yang sudah dicoba untuk dimanfaatkan antara lain matahari atau tenaga surya, air, panas bumi dan angin,” tandas Oktaufik.

Disamping sebagai pilihan sumber energi dalam menjamin  energy security (keamanan pasokan energi), pemanfaatan energi terbarukan juga dalam rangka meningkatkan akses energi di daerah terpencil, serta dalam konteks global untuk membantu mengurangi dampak emisi Gas Rumah Kaca.

Dikatakan, Indonesia  terdiri berbagai kepulauan besar dan kecil, kondisi ini sekaligus memberikan tantangan dan peluang bagi pemanfaatan energi terbarukan.

Dalam penyediaan kelistrikan, pola kepulauan ini turut mengakibatkan disparitas rasio elektrifikasi antar daerah di Indonesia, rata-rata rasio elektrifikasi nasional adalah 70%, yang berarti 30% rumah tangga di Indonesia belum menikmati fasilitas listrik.

“Kebutuhan listrik Indonesia saat ini kurang lebih 40 giga watt, dan mungkin akan bertambah 5 kali lipat kebutuhannya pada 10 dan 20 tahun kedepan. Melihat hal ini BPPT mencoba untuk mengkaji teknologi-teknologi seperti penggunaan energi baru terbarukan guna mencapai efisiensi dalam pemakaian energi dan memenuhi kebutuhan listrik yang semakin meingkat tersebut,” lanjutnya.

Ditambahkan, untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan untuk kelistrikan, berbagai teknologi sudah tersedia baik di dunia internasional, maupun di Indonesia. Beberapa teknologi energi terbarukan terutama untuk skala kecil, telah tersedia di negara kita, antara lain teknologi mikrohidro, kincir angin, serta sebagian dari teknologi tenaga surya PV.

BPPT saat ini juga mendukung program pemerintah dengan mengembangkan beberapa teknologi energi terbarukan baik untuk bahan bakar maupun kelistrikan. BPPT menyiapkan beberapa rancang bangun untuk pabrik biofuel baik gasohol maupun biodiesel, dalam beberapa kapasitas, utamanya untuk kapasitas kecil sehingga dapat dimanfaatkan oleh usaha menengah baik komersial maupun suatu komunitas masyarakat.

Dalam hal kelistrikan, energi panas bumi menjadi prioritas utama dalam pengembangan teknologinya, terutama untuk pembangkit listrik skala kecil hingga 5 MW.

Saat ini BPPT tengah mempersiapkan tahap uji coba Pilot Plant PLTP skala Kecil kapasitas 3 MW yang dibangun di lapangan panas bumi Kamojang, Porpinsi Jawa Barat, bekerja sama dengan PT Pertamina Geotermal (PGE).

Disamping itu, akan dikembangkan PLTP dengan teknologi berbeda yaitu Binary Cycle, yang rencananya akan dibangun di lapangan panas bumi Lahendong juga bersama PGE, dan dalam kerjasama bantuan teknologi bersama institusi GFZ dari Jerman.

Dalam hal pengoperasian sistem tenaga listrik dengan berbagai sumber energi terbarukan, BPPT juga sedang mengkaji pemanfaatan teknologi Smart-Microgrid, yang diaplikasikan di Kabupaten Sumba-Barat Daya di Provinsi NTT.

Teknologi ini memungkinkan terjadinya interaksi otomatis antara pembangkit energi tebarukan dan konvensional, serta perangkat energy storage, sehingga fluktuasi energi yang biasa terjadi pada tenaga surya atau angin, tidak mengganggu kinerja sistem kelistrikan, dan sistem tetap dapat memperoleh manfaat injeksi energi dari tenaga surya dan angin tersebut.

“Selain teknologinya, tentunya perilaku manusia sebagai pengguna energi pun harus diperhatikan dan dirubah demi kebaikan bersama. Seperti penggunaan minyak seakan short cut untuk mendapatkan listrik, padahal cadangan minyak dunia pun semakin menipis dan akan semakin mahal. Penggunaan energi terbarukan harus terus diupayakan dan memerlukan dukungan dari berbagai pihak dalam penerapannya,” tutup Oktaufik.  (endy – [email protected])