Berita

Dua Hambatan Investasi: Infrastruktur dan Perburuhan

JAKARTA, alumniITS:
Suasana investasi Indonesia semakin kondusif. Sayangnya, hingga kini kendala sekaligus hambatan yang masih terjadi, yakni belum pulihnya infrastruktur serta masalah perburuan yang belum tertangani secara tuntas.

“Dua hambatan investasi ini harus segera ditangani secara serius,” harap Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat
pada acara penganugerahan Penghargaan Penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Gedung BKPM, Jakarta Senin,
(12/11/2012).

Diakuinya, perkembangan investasi di Indonesia mengalami grafik peningkatan yang sangat pesat, dalam periode lima tahun terakhir. Indonesia menjadi darling dari investor. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bisa berada di atas 6 persen menjadi

daya tarik tersendiri bagi investor.

“Sejak 5 tahun lalu, Indonesia sudah masuk radar investasi internasional. Tapi, saya khawatir aliran investasi ini tidak

dibarengi dengan perkembangan infrastruktur. Saya hanya takut lancarnya investasi tidak bisa kita barengi dengan

melengkapi infrastruktur karena kita baru membangun tahun ini,” tandasnya serius.

Saat ini, lanjut dia, alokasi anggaran pembangunan infrastruktur mencapai Rp 200 triliun, memang sangat kurang. Idealnya,

dana pengembangan infrastruktur harus mencapai Rp 500 triliun.

Selain itu, masalah buruh menjadi isu klasik yang harus segera disikapi. Dan, untuk mengatasi isu buruh yang sedang

mencuat, ia akan mengadakan pertemuan tingkat menteri dengan beberapa kementerian terkait. “Mudah-mudahan dalam waktu

dekat kemelut masalah buruh dengan aturan resource outsourcing maupun kenaikan upah minimum dapat kita sikapi,” katanya.

Jika kedua masalah ini bisa teratasi, ia yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin stabil. Hidayat berharap di

tahun-tahun mendatang Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia bisa meningkat karena investasi dan ekspor yang semakin

meningkat.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), M. Chatib Basri, optimistis bisa mencapai target investasi sebesar US$ 32

miliar sampai dengan akhir tahun ini. Sampai September 2012, nilai investasi di Indonesia sudah mencapai US$ 18,3 miliar

atau Rp 229 triliun. Kami yakin target hingga akhir tahun senilai US$ 32 miliar akan tercapai.

Menurut Chatib, dibandingkan dengan tahun 2011, total nilai investasi di Indonesia per Oktober 2011 hanya mencapai US$ 19

miliar. Sementara itu, pada Oktober 2012 nilai investasi menembus US$ 25 miliar.

Ia menambahkan, tahun 2013, target investasi mencapai Rp 390 triliun. Untuk mencapai target itu, ia mendorong agar

penyelenggara pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di bidang penanaman modal, baik di provinsi, kabupaten, dan kota terbaik

dapat meningkatkan realisasi nilai investasi melalui efisiensi birokrasi dalam pelayanan perizinan.

Sampai dengan tahun ini, menurut Chatib, sejumlah 105 kabupaten dan kota sudah menjadi penyelenggara PTSP. Sebagian di antaranya sudah dilengkapi dengan sertifikasi ISO. Pada kesempatan ini, Chatib turut mengapresiasi kenaikan peringkat Indonesia untuk investasi di peringkat 128 pada tahun ini yang naik dari peringkat 129 di tahun 2011, menurut International Finance Corporation (IFC).

Diharapkan, 2013 seluruh kabupaten dan kota di Indonesia bisa menjadi regional champion dalam penyelenggaraan PSPT untuk meningkatkan realisasi nilai investasi di Indonesia. “PTSP kami harapkan berkompetisi antara pusat dan daerah, terutama melalui sertifikasi ISO,” katanya.  (endy – [email protected])