Berita

Atasi Kekurangan Pilot, FPI Sarankan Pemda Beri Bea Siswa

JAKARTA, alumniITS:
Federasi Pilot Indonesia (FPI) menyarankan Pemerintah Provinsi maupun Daerah se Indonesia, memberikan bea siswa bagi putra putri terpilih di daerahnya, agar mengikuti pendidikan pilot.

“Langkah ini untuk mengatasi kekurangan pilot, dan memenuhi kebutuhan sumber daya pilot bagi penerbangan seluruh wilayah Indonesia ke depannya. Apalagi 10 tahun mendatang moda transportasi udara menjadi hal utama,” ujar President FPI Capt Hasfrinsyah HS, kepada alumniITS.com di Jakarta, Jumat (02/11)

Saat ini, lanjut dia, jumlah traficc penerbangan meningkat seiring peningkatan arus penumpang jalur penerbangan. Juga, maskapai terus menambah armada baru. Dan adanya kebijakan percepatan pembangunan rute penerbangan baru.

Sesuai data Litbang Ditjen Perhubungan Udara hingga lima tahun ke depan, Indonesia butuh 4.000 pilot atau 700-800 pilot per tahun. Dicontohkan, untuk kebutuhan pilot di maskapai Garuda Indonesia per tahunnya 280 – 300 pilot.

Selama ini, kebutuhan SDM pilot dipenuhi dari STPI (milik pemerintah) dan 13 Sekolah Pilot Swasta se Indonesia. Dengan asumsi, bila satu sekolah menghasilkan rata-rata 50 pilot per tahun, berarti totalnya hanya menghasilkan sekitar 400-500 pilot.

Sehingga masih ada kekurangan hampir separuh untuk memenuhi kebutuhan pilot. Kondisi ini jelas tidak memungkinkan bagi pemuda Indonesia untuk bisa masuk kedunia pendidikan pilot. Mengingat, sekolah pilot itu sangat ekslusif. Rata-rata beaya seorang penerbang antara Rp500 hingga Rp700 juta.

Berbicara penerbangan, Indonesia masih memiliki daerah remote, pedalaman, perbatasan juga  wilayah Indonesia Bagian Timur, yang selama ini sangat membutuhkan konstribusi jalur udara atau penerbangan perintis. Dulu diawali Merpati Nusantara, yang sanggup membangun jembatan udara ke wilayah pedalaman Indonesia Timur.

“Nah, inikan butuh pilot banyak, masak kita harus impor pilot untuk mengatasinya. Hasil sekolah Pilot, maukah para pilot lulusan swasta melirik daerah tersebut, sementara maskapai skala besar juga membutuhkan tenaga pilot yang baru lulus. Secara logika sulit untuk mendapatkan pilot perintis saat ini, tegasnya.

FPI sumbang saran agar Pemprov maupun Pemda menyaring putra putri terbaik di daerahnya untuk disekolahkan ke sekolah pilot, atas beaya APBD setempat. Penyaringannya diseleksi secara ketat oleh Kementrian Perhubungan Udara.

Lulusan pilot akan ditempatkan di maskapai mana saja dan melalui ikatan dinas. Misalnya selama 10 tahun itu, dimana sebagian gajinya disisihkan untuk mendidik calon pilot baru atau adik kelas di daerah asalnya.

“Jadi ada kesinambungan atau putaran generasi baru dari daerah itu, untuk disekolahkan lagi ke sekolah pilot. Begitu juga seterusnya, sehingga kekurangan pilot bisa diatasi bersama,” tambahnya.

Dari 31 provinsi, jika satu provinsi mengirimkan 5 – 10 putra-putri daerah, maka menghasilkan 155 calon pilot. Jika disubsidi secara berkesinambungan dalam tempo 3 tahun atau 3 periode, akan meluluskan 400 pilot putra daerah. Namun, bila hanya bisa mendidik separoh saja 250 dari hasil 400 putra daerah, dalam 5 tahun ke depan Indonesia tidak akan kekurangan pilot.

Tentunya jumlah itu, ditambah dengan flying scholl swasta. Sehingga jumlah pilot di Indonesia akan mencukupi. Tentunya, ini akan menjadi suatu kekuatan baru bagi kedirgantaraan nasional, sekaligus dapat meningkatkan perekonomian Indonesia.

Selain itu, yang lebih membanggakan lagi, putra daerah akan memiliki empati kedirgataraan, juga bangga terhadap daerahnya yang membiayai serta rasa nasionalisme akan semakin tinggi. (endy – [email protected])