InspirasiKiprah Alumni

Berjibaku Menyediakan Air Bersih Untuk Warga Jakarta

Tidak dapat dipungkiri bahwa DKI Jakarta ada 2 permasalahan yang selalu menjadi sumber pemberitaan media, bahkan pembicaraan di media sosial oleh Netizen yaitu banjir dan kemacetan. Bahkan saat kampanye Pilkada 2017 yang lalu, 2 isu ini menjadi bahan utama kampanye yang menarik.

Dalam konteks banjir berkembang pada hal normalisasi ciliwung (berdampak pada relokasi warga), pengerukan sungai, pompa air dan masih banyak lagi. Dalam konteks kemacetan, berkembang seperti penataan PKL di Tanah Abang, pembangunan fly over dan under pass, dan lainnya.

Namun ada hal penting yang seringkali luput dari public, dan juga kurang menjadi isu dalam Pilkada 2017 yang lalu, yaitu air bersih bagi warga Jakarta. Sebagai ibu kota dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 10 juta orang di malam hari dan 12 juta orang di siang hari (waktu kerja), maka sebagai daerah yang tidak memiliki sumber mata air dan hanya dilalui sungai Ciliwung yang tidak layak menjadi sumber bahan baku air, maka air bersih menjadi isu penting di Jakarta. Bersumber dari air bersih pulalah derajat kesehatan warga dan sendi-sendi ekonomi lainnya sangat tergantung, khususnya bagi warga kelas bawah.

Gubernur boleh berganti sejak Era Fauzi Bowo (Foke), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sampai dengan Anis Baswedan. Namun sosok Muhammad Selim Direktur Utama AETRA (mitra Pemprov DKI Jakarta dalam pengelolaan air bersih/PDAM) tidak tergantikan .

Mohammad Selim, Warga Negara Indonesia, 59 tahun Lulus dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, jurusan Teknik Kimia, tahun 1983 adalah Direktur Utama AETRA sejak 3 Mei 2011 sampai dengan sekarang, atau hampir 7 tahun mengabdi untuk menyediakan air bersih bagi warga DKI Jakarta. Kiprah Mohammad Selim saat merubah PDAM Sursa Sembada Surabaya (PDAM Surabaya) dari rugi menjadi menguntungkan dengan raihan sampai lebih dari Rp 200 miliar hanya 2 tahun sejak diangkat menjadi Direktur Utama PDAM Surabaya rupanya menjadi daya tarik bagi pemegang saham AETRA untuk mengajak Selim bergabung ke AETRA di tahun 2011.

Sosok pria sarat pengalaman ini sebelum berkecimpung di PDAM telah melalang buana di berbagai perusahaan antara lain PT. Air Products Indonesia, ARCO, dan PT. Badak NGL Co. Dalam konteks kegiatan kemasyarakatan, termasuk organisasi Ikatan Alumni ITS, sosok Muhammad Selim sangat aktif berkiprah di almamaternya, seperti pernah menjadi Ketua Kongres Ikatan Alumni ITS 2007 di Surabaya maupun Ketua Umum Alumni Teknik Kimia ITS.

Pada sebuah wawancara dengan media, Mohammad Selim menyampaikan bahwa ketersediaan air baku diperkirakan masih menjadi salah satu masalah penyediaan air bersih di Ibu Kota. Pendangkalan saluran, kebocoran, serta kerusakan infrastruktur membuat distribusi tak optimal. Pemerintah diharapkan memperbaikinya secara menyeluruh dari hulu ke hilir.

Hingga kini, Jakarta masih menggantungkan mayoritas pasokan air bakunya dari Waduk Ir H Djuanda di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Namun, kondisi saluran induk Tarum Barat, infrastruktur utama yang mengalirkan air ke Jakarta, masih rusak. Kerusakan tanggul, pintu air, dan fasilitas lain terus berulang. Hal ini menyebabkan meski air baku yang dipasok dari Jatiluhur ke Jakarta mencapai 9.200 liter per detik dalam kondisi normal. Namun, debit air justru turun saat musim hujan. Satu pekan lalu, misalnya, air baku hanya 3.000-4.000 liter per detik.

Selim mengatakan, pasokan air baku bahkan pernah mencapai nol liter per detik pada tahun-tahun sebelumnya. ”Kami berusaha mengangkut sampah secara manual. Namun, jumlah sampah yang bisa diangkut hanya seperempat dari jumlah keseluruhan,” ujarnya saat mengingat betapa beratnya kondisi di awal kepemimpinannya di AETRA.

Jika saat ini warga melintas disepanjang Jakarta-Bekasi dan melihat penataan saluran inspeksi Kalimalang dengan pengerukan dan pembetonan di pinggir kali, maka itu salah satu upaya Pemerintah dan AETRA untuk menjaga volume pasokan air baku untuk diolah menjadi air bersih bagi warga DKI Jakarta.

Pemukiman warga DKI Jakarta yang padat, turut menjadi persoalan jika ada kebocoran ataupun pencurian air. Di tahun 2016, tingkat kebocoran pipa air PT Aetra Air Jakarta mencapai 41,7 persen atau sebanyak 3.000 titik kebocoran.

Saat ini, Pemerintah DKI Jakarta baru bisa memenuhi sekitar 68 persen kebutuhan air bersih. Pemerintah pusat dan daerah menyiapkan berbagai strategi agar seluruh kebutuhan air bersih di Indonesia dapat tercukupi pada 2019. Strategi antara lain dengan menambah air bersih dari Waduk Jatiluhur sebesar 9.000 liter per detik.

Ahli hidrologiProfesor Arwin, menjelaskan, Jakarta tak akan menghadapi kendala terkait ketersediaan air baku jika semula regulasi dijalankan secara tepat sasaran. Selain itu, pembangunannya juga diawasi dengan baik. Selama ini, banyak warga mengambil air tanah melebihi jumlah yang diperbolehkan tanpa pengawasan pemerintah.

Kiprah Mohammad Selim dalam mengadikan profesi dan keahliannya di DKI Jakarta, diharapkan dapat menginspirasi lebih dari 30% Alumni ITS yang saat ini bekerja dan berkarya di Jabodetabek. Bahwa ladang pengabdian begitu luas, yang dengan kesuksesan dan prestasi maka akan turut meningkatkan citra yang baik tentang pendidikan di ITS.