InspirasiKiprah Alumni

Serial Tulisan Dwi Soetjipto (ke-2) – Mengatasi Permasalahan Kerja

Pernahkah kita dalam berkarir mendapatkan permasalahan? Tentu semua pernah mengalami hal yang sama. Pernahkan segala impian dan segenap upaya yang kita rajut dalam sekejap hilang, maka sebagian kita pernah merasakan. Masyarakat beranggapan, menjadi CEO perusahaan besar adalah hal yang menyenangkan, tentu saja tidak ada yang menyangkal akan hal tersebut. Banyak manfaat dan terkadang popularitas yang luar biasa besar saat kita berada pada posisi puncak, semisal CEO perusahaan besar.

Namun seringkali kita tidak tahu atau bahkan tidak ingin tahu, perjuangan para CEO untuk meraih apa yang dimilikinya saat ini sungguh luar biasa. Orang sukses juga memiliki kelemahan/kekurangan, mereka bukanlah manusia super. Sehingga, Ibarat teori gunung es, maka yang nampak di permukaan hanya sedikit dari apa yang tersembunyi dibawah permukaan. Banyak anak muda yang berpikiran instan dan ingin seperti yang ada di sinetron ataupun TV, seperti lahir sebagai anak orang kaya, harta tidak habis 7 turunan, muda foya-foya lalu mati masuk surga. Atau membayangkan dapat rejeki nomplok seperti salah transfer, memenangkan undian dan lainnya.

Sebagai lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, dan menyandang predikat mahasiswa berprestasi maka saya memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk mendapatkan pekerjaan. Saya ingin bekerja diluar Jawa agar kelak bisa naik pesawat. Pilihan jatuh di PT Semen Padang sebagai industri semen terbesar di Indonesia saat itu.

Bersama 15 karyawan seangkatan dari berbagai perguruan tinggi dan disiplin ilmu masuk sebagai karyawan PT Semen Padang ditahun 1981. Tiga tahun pertama pekerjaan berlangsung lancar dan ditempatkan di bagian produksi yang merupakan impian setiap Insinyur Teknik Kimia. Saya memiliki ambisi yang kuat dan ingin senantiasa menjadi yang terbaik.

Terlebih saat hari raya dan saya mendapatkan jadwal untuk terus bekerja, ssuatu saat dipanggil pimpinan/direktur yang mmerupakan orang Minang dan beliau selalu membagi uang kepada karyawan yang tidak cuti hari raya. Saat itu saya adalah karyawan giliran terakhir yang dipanggil. Beliau berkata “Dwi, kalau kamu tidak bisa menunjukkan diri sebagai karyawan terbaik, jangan berharap kamu akan naik pangkat. Kamu harus terima jika orang Minang yang akan mendapatkan prioritas”.

Kalimat direktur tersebut sangat membekas dalam hati saya. Wajar jika PT Semen Padang akan memprioritaskan karyawan dari Minang jika dari luar Minang prestasinya biasa saja. Bahwa sebagai pendatang dengan kondisi minoritas maka saya harus bisa menunjukkan bahwa “Dwi Soetjipto adalah karyawan berprestasi dan dibutuhkan perusahan”. Saya berpikir keras bagaimana menunjukkan bahwa saya adalah karyawan yang dibutuhkan perusahaan. Penilaian kinerja setiap 6 bulan terlalu lama untuk menunjukan bahwa Dwi Soetjipto adalah karyawan yang dibutuhkan perusahaan”.

Saya putuskan bahwa untuk menarik perhatian pimpinan, maka saya harus menunjukkan attitude sebagai karyawan yang berdedikasi. Maka saya putuskan harus menjadi karyawan yang pulang terakhir di unit produksi. Pulang kerja jam 16.30, maka saya akan pulang jam 17.00. Suatu saat ada yang pulang jam 18.30 maka saya akan pulang jam 19.00. Semakin lama karyawan di unit kerja saya pulang jam 19.30 maka saya pulang jam 20.00. Akhirnya tidak ada karyawan yang pulang jam 18.00, maka saya bisa pulang jam tersebut.

Suatu saat ada karyawan baru dan pulang malam, bahkan pernah pulang jam 21.00 maka saya pulang jam 21.30. Tentu wajar karyawan baru pulang malam, dan tentu saja menjadi persoalan bagi saya yang telah bertekad untuk pulang paling akhir. Butuh kesabaran dan ketahanan mental untuk konsisten, dan saya yakin. Akhirnya saya dikenal sebagai karyawan yang pulang paling akhir.

Apakah ini cukup untuk menarik perhatian dan menempatkan saya sebagai pendatang yang baik, saya rasa belum cukup. Maka saya aktif diberbagai kegiatan masyarakat Minang, melatih anak sekitar pabrik olahraga Silat, aktif kepanitiaan dan lainnya. Suatu saat saya dimasukkan sebagai anggota Tim Seleksi Karyawan Semen Padang, dan semua anggota adalah karyawan dari Minang. Tentu saja para pelamar adalah mayoritas dari Minang dan sebagian adalah anak, keponakan, saudara dan tetangga karyawan yang menjadi anggota Tim Rekruitmen.

Maka sebagai “bukan orang Minang” dan telah berbaur dengan masyarakat Minang maka saya dipandang paling obyektif dan diberikan peran yang besar dalam seleksi karyawan tersebut. Disinilah saya selama beberapa bulan berkesempatan belajar tentang SDM. Insinyur bagian produksi yang menguasai kemampuan Human Resources.

Suatu saat ada promosi dan saya tidak terpilih, maka betapa hancurnya hati saya. Dari 15 rekan seangkatan yang dipilih hanya 1, maka jika dengan teori urut kacang maka jenjang karir akan panjang. Disini saya merenung apa strategi saya agar tidak ketinggalan dalam karir.

Pada promosi berikutnya saya mendapatkan promosi. Tetapi bukan di bagian produksi, saya dipromosikan dibagian Diklat SDM. Semakin hancur hidup saya, apakah promosi ini saya terima atau tidak. Saat itu pekerjaan terbaik di pabrik bagi Insinyur Teknik Kimka adalah bagian produksi. Promosi di SDM saya anggap end of my carrier. Selama 3 hari hidup saya kacau, suatu saat saat bangun pagi, pikiran saya sangat tenang dan fresh, disitu muncul tekad bahwa “Dwi Soetjipto mampu bekerja dengan baik diposisi apapun dan mampu menciptakan prestasi”. Saat itu Diklat SDM menempati lokasi bekas proyek sehingga kondisinya amburadul. Lalu saya panggil staf saya di Diklat dan meminta KPI Diklat dirubah menjadi “Berorientasi Pelayanan” kepuasaan karyawan Semen Padang yang ditugaskan training adalah KPI Diklat.

Maka mulai sejak itu staf Diklat yang aktif mengurus keperluan training karyawan mulai menyiapkan tiket, uang muka dinas dan mengantar ke tempat kerja karyawan tersebut. Dulu karyawan training agak malas karena mesti urus sendiri keperluannya yang dapat mengganggu pekerjaan rutinnya. Sejak Diklat saya pegang, karyawan semangat training karena segalanya sudah disiapkan tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Nama Dwi Soetjipto kembali diperbincangkan di kalangan karyawan dan pimpinan PT Semen Padang.

Saya kemudian mendapatkan promosi di Litbang, tentu saja ini saya anggap bukan promosi tetapi adalah saya dibuang. Sempat terpikir untuk keluar dari Semen Padang,karena citra Libang sebagai “Sulit Berkeambang dan tempat buangan”. Siapa saja karyawan yang tidak disukai pimpinan maka tempatnya adalah litbang. Kembali saya bertekad untuk menunjukkan pada pimpinan Semen Padang bahwa “Dwi Soetjipto mampu memberikan kontribusi bagi perusahaan dimanapun ditugaskan”. Saya rubah mindset litbang menjadi “leader bagi proses produksi” di Semen Padang, bahwa Litbang harus menghasilkan sesuatu yang mampu meningkatkan efisiensi dan kinerja perusahaan. Karyawan Litbang saya minta menyebar dan meneliti apa yang bisa ditingkatkan dalam produksi semen.

Suatu waktu kembali bertugas di SDM saat saya diangkat menjadi Kepala Biro Pengembangan Personil, saat itulah saya berhasil merumuskan Sistem Pembinaan Personil Industri Semen yang tidak hanya menjadi rujukan/referensi bagi industri semen lain di Indonesia tetapi membawa saya menjadi pembicara di ajang pertemuan industri semen di Asia.

Kemudian saya kembali mendapatkan promosi sebagai eselon 1 (General Manager) Litbang, dan saat itu Litbang mendapatkan kepercayaan dari Direksi Semen Padang sebagai unit kerja yang menjadi andalan perusahaa .

Prestasi dan karya saya saat berada di posisi pekerjaan “bukan impian” atau lebih tepat di unit kerja buangan adalah
• 1984 Menciptakan Sistem Pembinaan Karyawan
• 1986 Menciptakan teknologi pemanfaatan gas buang diesel untuk ppengeringan bahan baku clay
• 1988 Presentasi Human Resource Development di 9th Symposium of AFCM
• 1991 Proses pembakaran Batubara Pada Industri Semen (Konvensi VII/BKK PII)
• 1992 Pengembangan Produk Penelitian Pembuatan Mansory Semen
• 1993 Ekspor Peralatan Semen ke Bangladesh

Bekal keberhasilan dalam bekerja 20% adalah kompetensi keilmuan yang diperoleh saat kuliah, sedangkan 80% adalah softskill mulai kemampuan komunikasi, adaptasi dan lainnya. Pesan saya setelah memasuki dunia kerja, segera tambah kompetensk anda. Jangan takut ditempatkan diposisi apapun. Yakinlah selalu ada room of improvement yang busa kita lakukan, akan ada peluang bagi kita untuk berkembang. Kuncinya jangan menyerah.

Semoga bermanfaat untuk refleksi sahabat semua di tahun 2018 []