InspirasiKiprah Alumni

Serial Inspirasi Dwi Soetjipto : Mengubah Kelemahan Menjadi Kekuatan

“Mengubah Kelemahan Menjadi Kekuatan”. Kalimat ini sering disampaikan motivator, bahkan menjadi thema film Holywood, tidak hanya itu, menjadi thema “kebanggaan Amerika serikat”. Lihatlah sosok Captain America pada perang dunia II melawan aliansi Jerman yang dipersepsikan sebagai pemuda yang lemah fisik. Melalui serangkaian uji coba, serta keberanian atau mungkin lebih tepat jika disebut kepasrahan pemuda lemah fisik bernama Steve Rogers berubah menjadi sosok yang kuat dan dijuluki Captain America.

Seolah-olah membayangkan perubahan dari “sosok lemah menjadi sosok yang kuat” adalah hal yang sederhana dan siapapun bisa melakukannya. Namun sesungguhnya hal tersebut membutuhkan tidak hanya semangat, namun daya daya tahan (endurance) yang luar biaya dan usaha tidak kenal lelah yang luar biasa pula.

Namun, siapaun kita, apapaun profesi kita harus terus menggaungkan semangat “ubah kelemahanmu, hilangkan kelemahanmu jika engkau ingin maju”. Terlebih para pemimpin negara dan eksekutif perusahaan maka harus menjadi yang terdepan untuk terus menjadi corong semangat perubahan ini. Jika mampu memberi contoh tentu menjadi hal yang lebih baik.

Berdasarkan pengalaman saya memberikan sharing ataupun konsultasi diberbagai kegiatan, audience sering menanyakan apa resep Dwi Soetjipto mampu meraih kesuksesan memimpin perusahaan “yang dalam turbulensi” menjadi perusahaan yang mampu mencatatkan kinerja secara gemilang.

Pada kesempatan ini, saya mencoba mengupas salah satu resep agar kita bisa maju yaitu “Mengalahkan Kelemahan Kita”. Bahwa perjuangan mengalahkan kelemahan kita tidak semudah apa yang ditunjukkan oleh film-film Holywood ataupun para motivator. Bisa dilakukan iya dan butuh semangat perjuangan yang dalam “kata bombastis” harus mengeluarkan 110% kemampuan, 1.000% kemampuan dan lainnya.

Tidak banyak yang tahu, jika cita-cita Dwi Soetjipto saat kecil adalah “menjadi supir bus” karena melihat tetangga di kampung halaman salah satu desa di Kediri Jawa Timur yang menjadi supir truk dan bisa pergi kemana-mana. Kemiskinan memaksa Dwi Soetjipto harus berpisah dengan ayahnya, karena ikut ibunya menjadi pembantu rumah tangga di Surabaya. Kemiskinan yang hampir saja merenggut cita-cita karena tidak adanya biaya untuk sekolah. Dwi Soetjipto harus bertahan hidup dengan menjual roti, koran dan lainnya agar bisa terus sekolah.

Semangat untuk tidak terjebak pada steriotip miskin ngapain sekolah, bagaimana bisa bersaing dengan anak-anak yang orang tuanya mampu secara ekonomi dan memberikan dukungan terbaik bagi anaknya (buku, les privat dll). Prestasi Dwi Soetjipto saat sekolah dengan latar belakang seperti itu dengan badan yang kecil dibandingkan teman sebayanya, menjadikan Dwi Soetjipto kena bully di setiap ujian sekolah. Jika tidak mau memberikan “contekan” kepada temannya, maka “kepala dijitak” adalah hal yang harus diterima. Pilihan mempertahankan “integritas” dengan tidak memberikan contekan agar hidupnya aman, ataukah “memberikan contekan” atau berkompromi dengan keadaan supaya selamat tidak kena “jitak”.

Sosok Dwi Soetjipto memilih “melawan keadaan”, berlatih silat adalah solusi untuk memiliki kemampuan bela diri agar mampu terus mempertahankan integritas dan melawan kelemahan yang dimiliki. Hidup di Surabaya di kawasan krembangan maka harus siap dengan sisi kehidupan yang keras. Dwi Soetjipto memilih berlatih silat di lokasi yang jaraknya lebih dari 5 km dari tempat tinggalnya untuk menunjukkan bahwa dia “tidak main-main” dalam berjuang mengatasi kelemahannya itu. Pulang-Pergi sejauh 10 km memberikan kemampuan fisik yang lebih baik lagi dan sekaligus menunjukkan kepada lingkungan bahwa Dwi Soetjipto sudah berubah.

Akibat pergaulan yang kurang (salah satunya karena asal keluarga yang miskin dan aktivitas lebih banyak untuk berjuang hidup keluar dari kemiskinan agar terus bisa sekolah), maka Dwi Soetjipto memiliki sikap yang minder dan tidak percaya diri jika berbicara didepan umum. Sebagai sosok yang memiliki visi jauh kedepan, dalam pikiran Dwi Soetjipto adalah bagaimana menjadi pemimpin jika tidak berani bicara. Pikiran ini terus menghantui saat Dwi Soetjipto diterima kuliah di Teknik Kimia ITS. Bagaimanapun juga, setelah menjadi insinyur akan memimpin anak buah dalam pekerjaannya nanti, artinya Dwi Soetjipto tidak bisa lari dari kenyataan, apakah ingin sukses dalam bekerja ataukah tidak.

Menyadari hal tersebut, maka Dwi Soetjipto menetapkan strategi agar di tahun pertama bisa berprestasi agar mendapatkan beasiswa supaya bisa terus kuliah dan tahun kedua belajar berorganisasi. Apa yang saya lakukan, saya datangi panitia menanyakan apa ada pekerjaan yang bisa dibantu. Tentu kaget para senior melihat ada juniornya datang mau membantu sebagai panitia, hal yang aneh karena disaat panitia lainnya malas-malasan, ini ada yang bukan panitia malah mau bekerja.

Setelah kemudian menjadi panitia sebagai pembantu umum, lalu seksi perijinan dan lainnya, Alhamdulillah dengan kepercayaan diri yang semakin meningkat dan kontribusi yang besar bagi organisasi Senat Mahasiswa Teknik Kimia ITS, maka pada akhirnya saya dipilih menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Teknik Kimia ITS.

Semangat kebangsaan semakin terpupuk saat aktif di organisasi mahasiswa, maka saat tahun 1978 masa pemberlakukan NKK BKK dan melarang mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi politik, tentu saja sebagai Ketua Senat Mahasiswa Teknik Kimia ITS serta memiliki cita-cita untuk melakukan perubahan, larangan tersebut tidak menyurutkan langkah perjuangan bersama elemen mahasiswa dimasa itu untuk menyuarakan kebenaran, menyuarakan suara rakyat Indonesia. Resiko di penjara, di gebuk tentara adalah bagian dari resiko perjuangan dan akan terus memupuk kemampuan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Tidak takut berjuang dimanapun nanti berada.

Pada tahun 1978-1979 saya meraih 3 hal sekaligus yaitu Mahasiswa Berprestasi ITS, Ketua Umum Senat Mahasiswa Teknik Kimia ITS dan juara nasional silat. Dari sinilah saya memiliki keyakinan yang semakin kuat, bahwa saya akan mampu menciptakan prestasi ditempat lain setelah lulus dan bekerja. Bahwa saya mampu mengatasi kekurangan/ kelemahan yang ada pada diri saya, bahwa kelahiran saya 10 Nopember 1955 tidak sekedar sama dengan peringatan hari pahlawan disetiap tangal 10 Nopember, tetapi bahwa Dwi Soetjipto telah mampu melakukan transformasi diri dan memiliki “Sifat dan semangat senantiasa berjuang dalam hidupnya”. Bahwa apa yang telah dilakukan dan capaian prestasi Dwi Soetjipto saat menjadi Direktur Utama PT Semen Padang, Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) tentu merupakan refleksi atas perjalanan hidup Dwi Soejtipto kecil.

Sahabat-sahabat semua, apakah di tahun 2017 sudah menemukan kelemahan yang dapat menghambat langkah Anda menuju tahun 2018. Para pengamat mengatakan bahwa tahun 2018 adalah tahun politik dan dapat berakibat pada ketidakpastian, adapula yang mengatakan bahwa daya beli di tahun 2018 akan membaik dan kesempatan bagi kalangan bisnis untuk menambah kapasitas. Apapun opini yang berkembang di luar, tetaplah diri kita sendiri yang tahu apa yang harus dilakukan, apa yang ingin diraih di tahun 2018. Apapun itu, jadilah bagian dari warga negara Indonesia yang memiliki semangat untuk terus berjuang tidak hanya diri sendiri tetapi juga untuk lingkungan sekitar, kehidupan disekitar kita dan membangun Indonesia yang lebih baik.

Semoga apa yang pernah saya alami saat masih kecil, saat sekolah, saat mahasiswa, saat memegan amanah sebagai Ketua Senat Mahasiswa, saat memegang amanah mewakili Jawa Timur di ajang kejuaraan silat dan lainnya dapat menjadi penyemangat bagi Sahabat semua melakukan hal yang lebih baik. Bahwa Anda semua akan melebihi apa yang telah dilakukan oleh Dwi Soetjipto.
Selamat berkarya, Selamat berjuang, Sukses untuk Anda