Banner
  
Profile Bisnis
Woodwinds Health Campus - Customer Experience PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 22 January 2009 13:01
Kebutuhan akan rumah sakit sudah lama ada. Lama kelamaan kebutuhan akan rumah sakit ini semakin berkembang, dimana rumah sakit tidak hanya dilihat sebagai sekedar tempat untuk menampung, dan merawat orang yang sakit. Woodwinds Health Campus menciptakan lingkungan penyembuhan unik yang dapat mencakup segala kebutuhan dari pasien dan keluarganya. Situasi yang ingin dibangun oleh Woodwinds adalah sebuah rumah sakit yang tidak memberikan kesan seperti rumah sakit, tetapi lebih seperti sebuah kampus (sarana untuk belajar), dan sarana penyembuhan yang lebih dekat dengan alam. Mereka sadar bahwa privasi, empati, keamanan dan kenyamanan sangat penting bagi para pasien yang sedang dirawat di rumah sakit. Hal ini melahirkan suatu filosofi pelayanan yang lebih hangat dan bersahabat, yang dapat mendukung komitmen Woodwinds dalam memberikan perawatan dan pelayanan yang lebih baik. Woodwinds Health Campus mempunyai visi untuk menjadi inovatif, unik, dan menjadi pilihan utama dalam hal penyediaan sumber daya untuk kesehatan, dengan cara menciptakan suatu pengalaman dalam penyembuhan, perawatan kesehatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Mereka mempromosikan kesehatan dan penyembuhan, baik fisik dan spiritual, melalui hubungan yang baik, pilihan, dan pembelajaran.

Woodwinds memperhatikan nilai-nilai yang diperlukan untuk mendukung semua visi dan misinya itu, dengan memberikan pelayanan yang lebih hangat dan bersahabat, praktek-praktek yang sesuai dengan kode etik yang berlaku, kolaborasi dengan pihak-pihak lain, dan sumber daya manusia yang kompeten dan handal. Prinsip-prinsip yang dipakai adalah melibatkan semua pihak yang terlibat (pasien, keluarga, rumah sakit) agar semuanya bisa saling mendukung terjadinya kesembuhan, membangun suatu sistem yang dapat mendukung terciptanya lingkungan pelayanan pelanggan dan membuat lingkungannya agar terkesan lebih seperti kampus, menggunakan semua fasilitas secara bertanggungjawab agar kesehatan keuangan rumah sakit dapat terjaga, menciptakan lingkungan penyembuhan yang lebih dekat dengan alam agar dapat menghasilkan kualitas kesehatan yang lebih baik, meningkatkan kualitas kesehatan dari komunitas tertentu dengan menjadi partner mereka dan mengerti segala kebutuhannya, dan menyediakan laboratorium sebagai sarana belajar.
Fasilitas-fasilitas yang disediakan untuk Inpatient:
•Critical Care (ICU)
•Medical/Surgical Care
•Maternity Care
•Orthopaedic Specialty Center
•Cancer Care (oncology)
•Pediatrics
•Hospice Care

Fasilitas-fasilitas untuk Outpatient:
•Surgery
•Radiology Care
•Heart & Lung Care
•Sleep Care
•Infusion Therapy
•Lab

Pembangunan pengalaman lewat merek (brand) dan logo dari Woodwinds Health Campus, dapat dilihat dari desain logo, nama merek, dan warna yang digunakan. Nama “Woodwinds Health Campus” yang digunakan sangat berkesan alami, dekat dengan alam, dan sebagai sarana pembelajaran atau studi. Lambang daun dan warna-warna hijau kuning pada logonya juga memperkuat kesan tersebut. Lingkungan di sekitar lokasi, dan gedungnya juga didesain agar tidak terlihat seperti rumah sakit pada umumnya.

Pengalaman yang dirasakan oleh pelanggan dapat dilihat dari pendapat atau testimoni mereka tentang Woodwinds. Kata-kata yang sering terdengar adalah, “It doesn't feel like a hospital. It doesn't look like a hospital. It doesn't smell like a hospital.” Suasana yang berbeda sudah terasa pada saat melihat lokasinya. Saat melewati pintu masuk yang luas, pelanggan dapat melihat koridor-koridor yang nyaman dan luas. Panduan dan petunjuk yang ada juga jelas, dan dengan cepat dapat memandu para pelanggan untuk menuju ke area yang diinginkan, tanpa harus menunggu di ruang tunggu atau resepsionis. Di Woodwinds, mereka merasakan lingkungan penyembuhan yang berbeda dari rumah sakit lainnya, dimana privasi, empati, keamanan, dan kenyamanan sangat terasa pada saat mereka berada di sana. Pasien dapat merasakan ruangan perawatan yang lebih nyaman, karena di dalam ruangan tersebut juga terdapat zona untuk tempat istirahat keluarga, dan zona untuk perawat. Desain seperti ini memungkinkan perawat untuk dapat lebih dekat dengan pasien, tetapi sekaligus memberikan privasi yang cukup juga pada pasien. Pasien dapat membangun hubungan yang baik dan rasa saling percaya dengan perawat, sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan. Pasien merasakan perawatan yang lebih personal, hangat, dan bersahabat. Keluarga dari pasien juga merasa dilibatkan dan menjadi partner dalam proses penyembuhan. Hal ini memudahkan keluarga dalam memberikan dukungan dan segala sesuatu yang dibutuhkan pasien, dan menciptakan pola kehidupan yang normal seperti pola kehidupan sehari-hari.

Woodwinds adalah kolaborasi dari HealthEast Care System dengan Children’s Hospitals and Clinics. 70 dari ruangan atau tempat tidur dari Woodwinds ini merupakan fasilitas non-profit yang berada dalam pengawasan para pemegang saham, dan para pemegang saham dari HealthEast Care system. Woodwinds resmi dibuka pada bulan Agustus tahun 2000 dan merupakan satu-satunya rumah sakit di southeast metro area.
Ivan Mulyadi (berbagai sumber)

 
Supaya Kaum Dhuafa Bisa Menerima Haknya PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 22 January 2009 12:59
(Sumber Majalah Pengusaha 11 July 2007)

Dana yang diperuntukkan kaum miskin, zakat, infaq ataupun apapun namanya, seringkali meleset dari sasaran. Memperbaiki kondisi seperti ini merupakan salah satu kontribusi Rumah Zakat Indonesia (RZI). Russanti Lubis

Ke mana ya larinya dana zakat, infaq, atau sedekah yang kita berikan? Meski cuma selintas, tentu pertanyaan semacam ini pernah muncul di dalam hati atau benak kita. Apalagi, kita mengetahui dengan pasti bahwa pengertian kaum dhuafa di Indonesia ini masih rancu, sehingga mereka yang seharusnya berhak atas dana tersebut justru tidak menerima, sebaliknya yang seharusnya tidak menerima malah mendapat berlipat-lipat.
Di sisi lain, juga muncul pertanyaan apakah tempat-tempat kita biasa menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah itu sudah layak untuk menyalurkannya? Kalau iya, lalu untuk apa lagi dibentuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS)? Sekadar informasi, menurut Undang-Undang No. 38/1999 (undang-undang tentang pengelolaan zakat, red.) terdapat dua lembaga yang mengelola zakat yaitu BAZNAS yang dikelola oleh pemerintah dan LAZNAS yang berstatus lembaga swadaya masyarakat (LSM). Saat ini diperkirakan terdapat 400 LAZNAS, salah satunya yaitu Rumah Zakat Indonesia (RZI).

Begitu banyaknya LSM semacam ini di bumi nusantara, tentu akan menimbulkan pertanyaan baru lagi yaitu apakah ini sebuah “bisnis” baru yang basah. “Bukan! Kami hanyalah jembatan antara si kaya dengan si miskin. Ibarat pajak dalam struktur kenegaraan, dalam struktur keagamaan juga terdapat keharusan bagi pihak-pihak tertentu untuk mengeluarkan sebagian harta mereka yang disebut zakat, infaq, dan sedekah. Agar ‘pajak’ ini dapat disalurkan dengan cara dan kepada orang yang benar, sehingga si penerima lambat laun akan meningkat taraf hidup mereka atau tidak akan menjadi penerima selamanya, di situlah kami berada dan bertugas,” jelas Virda Dimas Ekaputra, Chief Executive Officer RZI.
Namun, Virda tak menampik bila LSM semacam ini dipersepsikan sebagai “bisnis” yang basah mengingat menurut peraturan para ulama fiqih, setiap LAZNAS diperkenankan mengambil 12,5% dari dana yang dihimpun untuk membiayai karyawan, operasional, dan pengembangan lembaga. “Bebas pajak lagi, karena semua program yang ditawarkan kepada masyarakat itu gratis,” kata pria yang membawahi 430 karyawan ini. Sekadar informasi, RZI yang pada awal berdirinya (1998) di Bandung merupakan lembaga sosial yang konseren pada bantuan kemanusiaan dengan nama Dompet Sosial Ummul Quro, tahun lalu mampu menghimpun dana sebesar Rp54 milyar.
Di satu sisi, ia melanjutkan, dulu zakat yang diberikan masyarakat tidak difasilitasi oleh lembaga tertentu, hanya dilakukan oleh baitul mal. Di sisi lain, menyalurkan zakat secara langsung kepada yang berhak juga tidak dilarang, meski lebih baik bila disalurkan ke lembaga yang berwenang. “Apakah lembaga tersebut dapat dipercaya atau tidak tergantung kepada bagaimana lembaga tersebut membangun citranya,” katanya.

Rumah ZakatRZI yang mulai tahun 2000 melakukan pemekaran dengan membuka cabang di Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Tangerang, Pekanbaru, Aceh, Medan, Padang, Palembang, Batam, dan Semarang, tidak pernah meminta zakat, infaq, atau sedekah kepada masyarakat, tetapi membuat berbagai program dan kemudian menawarkannya kepada mereka untuk didanai. “Selanjutnya, kami melaporkan berapa banyak dana yang telah mereka sumbangkan dan untuk apa saja, lewat situs pribadi atau majalah in house yang kami terbitkan secara berkala,” ujarnya. LSM yang memiliki lebih dari 41.000 donatur yang tersebar ke seluruh penjuru tanah air, Malaysia, Singapura, Jepang, Australia, Amerika, dan Timur Tengah ini menawarkan dana terikat di mana donatur akan memilih salah satu atau beberapa program yang ditawarkan untuk didanai. Juga dana tak terikat di mana donatur akan menyerahkan sepenuhnya pengelolaan dananya kepada lembaga yang didirikan oleh Abu Syauqi dan rekan-rekannya ini.

Program-program yang digulirkan RZI mencakup EduCare (beasiswa SD–SMA, Kids Learning Centre, Pelatihan & Pengembangan Potensi Anak, dan Sekolah Juara), HealthCare (rumah bersalin gratis, mobil jenazah gratis, mobil klinik keliling gratis, dan lain-lain), YouthCare (pengembangan kepemudaan atau relawan dalam program Siaga Sehat dan Siaga Bencana), dan EcoCare (layanan pembinaan UKM melalui Lembaga Keuangan Mikro Syariah). “Total hingga Mei 2007, lewat program-program ini sekitar 100.000 orang telah terbantu!” tegasnya.
Lantas, siapa yang berhak mendapat zakat, infaq, atau sedekah ini? “Kami membuat batasan tentang siapa yang dikategorikan kaum dhuafa, berdasarkan upah minimum propinsi (UMP). Bagi anggota masyarakat yang berpenghasilan kurang dari 50% UMP kami kategorikan fakir, sedangkan bagi mereka yang berpendapatan lebih dari 50% tetapi kurang dari 100% UMP kami golongkan miskin. Untuk mengetahui dengan pasti apakah mereka benar-benar fakir miskin, sehingga dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang kami sediakan secara gratis, kami melakukan semacam survai. Di sisi lain, siapa pun diperbolehkan menggunakan berbagai fasilitas kami tanpa memandang SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan, red.). Sebab, inti dari zakat, infaq, dan sedekah adalah berbagi. Berbagi dapat dilakukan oleh siapa pun dan untuk siapa pun,” jelasnya.

Ke depannya, RZI yang memiliki fasilitas layanan jemput zakat gratis, autodebet, transfer via ATM, autozakat (bayar zakat via sms berbasis kartu kredit, red.), sms donasi, konsultasi zakat dan keislaman via sms center, Z-report (laporan rekam transaksi yang bisa dilihat secara online di website, red.) berencana hadir di kota-kota besar, khususnya di kawasan timur Indonesia. Selain itu, mendirikan rumah bersalin gratis dan lembaga keuangan Mikro Syariah di 10 kota besar.
Lembaga keuangan ini memberi tambahan modal kepada para pengusaha UKM sebesar Rp500 ribu hingga Rp25 juta. “Kami juga sedang berkampanye tentang kesadaran berzakat (baca: berbagi, red.) sebagai sebuah gaya hidup,” ucapnya. Selama ini kita menjalani gaya hidup duniawi, agar terjadi keseimbangan hidup, apa salahnya kita pun menjalani gaya hidup yang bersifat akhirati. Jadi, yuk berbagi.

© 2008 Peluang Usaha dan Solusinya