|
Penentu Arah Kiblat Digital |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 22 January 2009 14:34 |
Banyak Masjid di Indonesia yang barisan shaf-nya sengaja dimiringkan tehadap posisi bangunan agar sesuai dengan arah kiblat. Ide ini yang menjadikan Alat penentu arah kiblat ini mendapat apresiasi positif dari para kalangan untuk disempurnakan agar dapat dikomersialkan. Pernah melihat Masjid yang barisan sholatnya (shaf) sengaja dimiringkan? Masjid sudah terlanjur dibangun tetapi ternyata arahnya tidak sesuai dengan arah kiblat. Akibatnya, Shaf-lah yang “mengalah” miring. Kondisi masjid semacam ini lah yang mendorong Aan Nurohman dan Keempat temanya untuk mencitakan alat penentu arah Kiblat,” paparnya. Ilmu ini didapat ketika mantan kru ITS Online ini sedang mengadakan liputan pelatihan ilmu falaq di Jurusan Fisika ITS. Saat itu, dibahas mengenai metode-metode perhitungan dalam menentukan arah kiblat. Kebetulan pula, aan sedang mencari ide untuk diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Langsung tercetus untuk membuat alat elektronik penentu arah kiblat, Ujar mahasiswa Teknik Elektro angakatan 2005 ini. Awalnya, mereka masih kesulitan mengimplementasikan perhitungan matematis kepada alat. Dengan persamaan trigometri pendekatan bola, ia memasukan data – data mengenai titik-titik derajat lintang dan bujur. Setelah itu ia memasukan data (input) tersebut pada chip processor untuk kemudian diolah menjadi hasil (output). Pada awalnya, ia berencana menggunakakn Teknologi GPS (Global Positioning System). “Karena berhubung deadline PKM telah dekat, sementara alatnya harus dipesan dulu, Jadi kita cari lebih simple” tutur pria yang sekarang menjabat Menteri Informasi dan Komunikasi BEM ITS ini . Tapi ia juga tetap berusaha agar alat ini user friendly. Akhirnya, selain dengan cara memasukan titik dimana pisisi alat itu berada. Ia juga memasukan database posisi beberapa kota besar di Jawa. Sehingga pengguna tinggi memilih kota tempat ia berada alat langsung bekerja dan ketika alat telah menghadap kiblat maka buzzer akan berbunyi “ Jelas Menurutnya hasilnya sudah cukup baik ia mencotohkan apabila sedang berada di sidohardjo, maka hanya perlu mengambil database kota Surabaya. “Selisih koreksi kemiringan derajatnya juga tidak terlalu besar, Jadi tidak begitu berpengaruh, “ ungkapnya. Perjuangan pun tak sia-sia. Karya ini menjadi wakil ITS dalam pekan ilmia mahasiswa Nasional (PIMNAS XXI) di Semarang, menjadi juara, namun banyak juri yang tertarik dengan karya ini. “Banyak juri yang memberikan semangat dan saran untuk menyempurnakan alat ini, “ imbuhanya, (bah) |
|
|
Tidak Bersaing, Saling Dukung |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 22 January 2009 14:33 |
Jadi sahabat, saling dukung, dan akhirnya sama-sama meraih nilai tertinggi. Itulah yang dialami dua mahasiswi Jurusan Matematika FMIPA ITS : Martasari Widiastuti dan Deni Megawati. Keduanya berhasil meraih predikat culaude di jurusannya dan diwisuda pada 12 Maret. IPK (indeks Prestasi Kumulatif) Marta – panggilan Martasari Widiastuti – 3,67; sedangkan IPK Deni – sapaan Deni Megawati – 3,66. Selain cumlaude, masa studi kedua gadis berjilbab, penerima beasiswa IKA ITS periode 2003 - 2004, itu juga tergolong cepat. Mereka menyelesaikan kuliah hanya 3,5 tahun. Keduanya mengaku bersahabat sejak SMA, meski dari sekolah berbeda. Marta dari SMAN 2 Pare, Kediri, sedangkan Deni dari SMAN 1 Pare. Mereka berkenalan justru ketika bersaing dalam kompetisi Olimpiade Kimia di Kabupaten Kediri. Sejak pertemuan itu, keduanya mengalami berbagai "kebetulan". Eh, tidak tahunya kita bertemu lagi di ITS di jurusan yang sama. Masuknya juga sama lewat PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan)," cerita Deni. Meski sama sama pandai dan berkeinginan menjadi nomor satu, keduanya mengaku tidak pernah bersaing. " Saingan? Nggak lah. Kita malah saling membantu. Kalau salah satu tidak masuk, biasanya kita langsung menawarkan catatan tanpa diminta," ujar Deni sambil tertawa. Menurut Marta, dia ingin memberi contoh yang baik kepada tiga adiknya. Setiap kali ada pelajaran yang tidak dimengerti, dia langsung megulangnya samapai paham betul. "Kadang dibantu Deni," kata mantan pengurus Lembaga Legislatif Mahasiswa di Komisi Pengembangan SDM ITS ini. Baginya, belajar dengan sistem kebut semalam menjelang ujian adalah pantangan. "Saya menerapkan belajar sistem kebut tiap hari agar semua materi bisa dimengerti saat itu juga, "kata Marta. Selain itu, dia juga tidak lupa untuk salat malam dan berdoa. Sedikit berbeda dengan pengalaman rekannya, Deni mengaku ingin cepat selesai kuliah karena tingkat ekonomi keluarganya yang tergolong pas-pasan. "Bukan soal SPP, tapi kebutuhan hidup di Surabaya jauh lebih mahal dibanding di Kediri," ujar putri ketiga dari empat bersaudara pasangan Siti Alimah dan Sukadi, PNS di RS Umum Pare ini. Deni mengungkapkan, semula ia tidak begitu menyenangi Matematika. Saat duduk di kelas 2 SMP, ia pernah diejek gurunya karena tidak bisa mengerjakan soal Matematika. Dari situlah, Deni memberontak dan ingin menunjukkan bahwa dia bisa. "Saya sempat sakit hati dibilang bodoh. Tapi, kritik guru saya itu ada positifnya juga,"katanya. |
|
|
|
|
|