Memoribilia
Sama-Sama Naksir PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 22 January 2009 13:43

Dulu sewaktu masih aktif di organisasi di ITS, saya punya teman dari Teknik Informatika ITS yang sebenarnya senior saya di organisasi, dikarenakan sering bertemu dan teman seperjuangan kepengurusan, kami menjadi akrab dan saya memanggilnya hanya dengan nama panggilannya saja, Nafiri. Jadi ceritanya begini, ndak tau bagaimana nd’lalah kami naksir cewek yang sama, tiap malam kami sering curhat-curhatan tentang cewek tersebut, dikarenakan Nafiri itu senior, saya agak ndak berani terus terang cerita perasaan saya tentang cewek yang dinaksir teman saya tersebut, sampai pada akhirnya kami punya kesimpulan bahwa cewek ini ndak jelas arah perasaannya dan harus ada cara supaya ada petunjuk dari cewek tersebut kemana perasaannya.
Saya masih ingat, sehabis maghrib tiba-tiba teman saya Nafiri datang ke kos-kosan, "Wil, aku duwe ide carane sek ngerti perasaan arek’e". Dikarenakan munculnya Nafiri yang tiba-tiba, saya juga kaget dengan idenya yang saya belum tau, "Yok opo Naf, carane ?". Mulai Nafiri menjelaskan idenya, "Wis ngene wae, awakmu saiki melu aku nang wartel". Segera kami meluncur ke wartel di jalan Gebang Kidul, begitu tiba di depan wartel, kami duduk dan Nafiri mulai menjelaskan idenya kepada saya, " Dadi ngene wil carane, awakmu mari ngene telponen arek’e, lah lek wis agak suwi aku tak nelpon arek’e pisan, pastiii engkok lek onok nada sela nang telpon arek’e, perhatekno telponmu ditutup nggak..? Lek ditutup, berarti arek’e nggak respek karo awakmu, lah nada sela’ku ng’kok lak diangkaaat, aku mulai ngobrol karo arek’e, lek wis agak suwia’an awakmu nelpono arek’e pisan, lah engkok onok nada sela nang telpon arek’e, telponku ditutup nggak..? Lek nggak ditutup, berarti arek’e onok perasaan nang aku. Yok opo menurutmu..?". Wah saya sempat kaget dengan idenya, saya berpikir berarti kompetisi kita akan segera berakhir, "Oke Naf, dicoba wae, idemu brillian….!". Mulai kita beraksi, saya masuk KBU Wartel, saya telpon si-dianya, mulai kita ngobrol dan agak lamaan, saya beri kode ke Nafiri untuk segera nelpon, Nafiri masuk ke KBU sebelahnya di Wartel yang sama, selagi saya ngobrol dengan si-dianya, tiba-tiba si-dianya berkata, "Mas, maaf ya, ini ada nada sela, ta’angkat dulu telponnya, ntar ngobrolnya disambung lagi", saya kaget dengan permintaan cewek tersebut, wah berarti saya ini ndak masuk orang yang diperhatikannya. Dikarenakan nada sela itu telponnya Nafiri, mulai Nafiri ngobrol dengan si-dianya, agak lamaan, Nafiri beri kode ke saya untuk segera nelpon, saya nelpon si-dianya, nada sela mulai masuk, ternyata nafiri masih trus ngobrol sama si-dianya walaupun berkali-kali saya nelpon si-dianya, wah berarti cewek ini naksir nafiri. Setelah selesai ngobrol dengan si-dianya, Nafiri keluar dari KBU dengan wajah ceria dan berkata kepada saya, "Yok opo Wil..?, saya berkata, "Yo, berarti cewek iku naksir awakmu Naf". Saya dan Nafiri pun keluar dari Wartel trus cari makan sambil ngobrol langkah selanjutnya supaya pedekate Nafiri dengan cewek tersebut lancar.
Ya…perjalanan waktu, akhirnya mereka memang jadian tapi kisah cinta mereka ndak lama, nggak tau sebab musababnya mereka putus. Sekarang Nafiri sudah bekerja di Jakarta dan sudah mempunyai pendamping mahasiswi kedokteran Unair.
Nafiri ... senior, teman baik, teman seperjuangan, teman cerita, yang hingga saat ini masih sering kita berkomunikasi dan semoga pertemanan kita tetap abadi hingga akhir hayat.
(Wildan Abd Karim, Teknik Fisika 1997 – 2003)

 
Perkembangan ITS PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 22 January 2009 13:40
Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya dulu ketika masuk ITS Tahun 1957, bahwa ITS akan menjadi yang seperti sekarang. Seolah jelas terlintas dalam pikiran saya dulu ITS hanya memiliki 2 Gedung kuliah yang saling terpisah. Kini yang tampak di ITS terdapat deretan gedung – gedung megah yang menjadikan ITS agung dan berwibawa. Bagi saya apa yang ada di ITS sekarang adalah sebuah anugerah Tuhan yang harus kita syukuri bersama. Saya dan generasi angkatan saya harus mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang terlibat dan berperan hingga menjadikan ITS seperti sekarang.
Saya adalah mahasiswa angkatan pertama ITS dan jurusan Teknik Mesin, masuk ITS pada tahun 1957, ITS masih bernama Yayasan Perguruan Tinggi Teknik Sepuluh Nopember, saat itu ITS hanya membuka pendaftaran untuk 2 program studi yaitu : Teknik Mesin & Teknik Sipil. Kalau tidak salah..tempat praktek dr. Angka Nitisastro di jln. Rajawali yang dijadikan lokasi pendaftaran bagi mahasiswa baru.
Tidak seperti sekarang ITS banyak memiliki gedung kuliah, dulu gedung kuliah hanya ada 2 yaitu di jln.Simpang Dukuh dan jln.Ketabang Kali. Untuk mata kuliah Bahasa Inggris dan Matematika, kuliah dilakukan di Kedokteran Unair dan ada sebagian kuliah untuk jurusan Teknik Mesin dilakukan di jln.Patua yang kini menjadi Gedung STM. Mungkin anda bertanya bagaimana transportasi kami berkuliah dengan jarak lokasi kuliah yang saling terpisah…? Saya masih ingat ada 2 alat transportasi yang sering digunakan mahasiswa pada jaman itu yaitu dengan trem listrik dan sepeda kumbang. Kalau tidak salah Bp. Ananda dan Bp. Supeno adalah teman angkatan saya yang pada saat itu telah memiliki Sepeda Kumbang. Mungkin memiliki sepeda kumbang pada jaman itu seperti memiliki sepeda motor pada jaman sekarang ini.
Dosen perkuliahan saat itu sebenarnya adalah karyawan perusahaan negara seperti Indra (BBI sekarang), Barata, Semen Gresik, Konata (PT.PAL sekarang) yang diperbantukan di Yayasan Perguruan Tinggi Teknik Sepuluh Nopember untuk mengajar. Perusahaan itu jugalah yang menyediakan laboratorium praktek dan kerja praktek bagi mahasiswa. Sedangkan dosen Matematika berasal dari IKIP dan Akademi Angkatan Laut.
Perkuliahan saat itu kebanyakan di Sore Hari, untuk pagi hari biasanya kuliah Fisika di Kedokteran Unair. Kenapa sore hari…? Jangan anda berpikir bahwa mahasiswa saat itu benar-benar baru lulus SMA seperti sekarang. Mahasiswa ITS saat itu kebanyakan mereka yang sudah bekerja semisal : Wartawan, Guru, Pegawai Pemda, Perwira Angkatan laut, Pegawai Pajak dsb. Biaya SPP perkuliahan saat itu kalau tidak salah….Rp.240 untuk 1 tahun. Apa aktifitas kemahasiswaan di jaman itu…? Seingat saya, dulu ada kegiatan mahasiswa menyambut kunjungan mahasiswa ITB ke ITS serta biasanya mahasiswa setiap tahun menyelenggarakan pertunjukan Wayang Orang Ngesti Pandowo dari Semarang.
Ini cerita suka-duka saat berkuliah di jaman revolusi, Saat itu pemerintah berencana melakukan devaluasi Rupiah dari Rp.1000 menjadi Rp.1, saya bersama teman-teman duduk-duduk didepan kelas kuliah sambil menunggu dosen datang, tiba-tiba ada teman saya berlari sambil berteriak memberitahukan ke teman-teman kalau pemerintah sudah melakukan devaluasi Rupiah, saat itu tiba-tiba dosen kami datang dan dia bertanya pada kami, "Lho ada apa ini kok ramai-ramai ?". Kami jawab, "Uangnya Rupiah sudah diturunin, Pak". "Diturunin Bagaimana ?", dosen saya bertanya. "Diturunin dari Rp.1.000 jadi Rp.1", kami jawab. Dosen saya kaget dan terkejut, dia berkata pada kami,"Kalau gitu kuliah hari ini tidak ada". "Lho kenapa kok tidak ada kuliah ?", kami bertanya. "Saya harus segera menukarkan uang saya yang saya taruh dibawah bantal", dosen kami menjawab. Kami kaget dan tertawa.
Trus dulu mahasiswa laki-laki & perempuan ITS jumlahnya berapa …? Seingat saya, angkatan I yang perempuan Ibu Anik dari jurusan Teknik Sipil. Selanjutnya kalau tidak salah yang lainnya Ibu Anggraini yang sekarang dosen di Teknik Sipil ITS. Yang saya ketahui dari teman-teman angkatan saya hanya 17 orang yang lulus dan dapat diwisuda. Wisudanyapun bukan di Gedung seperti sekarang….kalau tidak salah wisudanya di belakang Simpang Dukuh, bangunannya separuh tembok & separuh papan dipinggir sungai. Jangan anda beranggapan dulu dengan lulus dari ITS anda dapat nilai prestise dan kebanggaan seperti sekarang, ITS dulunya belum cukup diakui lulusannya oleh masyarakat, berkat jasa dr.angka-lah selaku tokoh pejuang yang cukup disegani di Jawa Timur, beliaunyalah yang sering mengajak tokoh-tokoh Jawa Timur untuk memperhatikan dan membantu ITS saat itu. Bahkan pada saat saya wisuda, hadir Panglima Brawijaya, Komandan Angkatan Laut, Pejabat Pemerintah Daerah dll. Semoga kebanggaan saya sebagai bagian dari almamater ITS dapat juga diwariskan kepada generasi ITS selanjutnya. Mungkin itu sebagian penggalan cerita yang saya masih ingat ketika berkuliah di ITS. Yang lainnya yang masih saya ingat, Bp. Urip Sudarman, beliaunya dulu pernah bekerja di Bappeda, yang menciptakan Pin ITS. Untuk lebih jelasnya cerita mahasiswa ITS di awal berdirinya ITS, anda dapat bertanya juga pada Ibu Anggraini, Bp. Pinardi, Bp.Djati dan Bp.Sutrisno.
(Bp. Jayadi Rahmat, Teknik Mesin 1957 - 1965)