| Kita Mesti Lebih Terbuka |
|
|
|
| Jumat, 01 Mei 2009 14:23 |
|
Ir. Sardjono Presiden Direktur PT Media Karya Sentosa Kita Mesti Lebih Terbuka Presiden Direktur PT Media Karya Sentosa Sardjono ini dalam struktur pengurus pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) Surabaya menjabat sebagai bendahara. Alumni Teknik Kimia angkatan 1981 ini belum lama menduduki posisi tersebut. Di kalangan alumni, mungkin belum banyak yang mengenal Cak Sardjono, kecuali di lingkungan alumni teknik kimia. Namun, namanya sudah banyak dikenal di dunia minyak dan gas bumi, serta pertambangan mineral. Dialah salah satu pendiri PT Mahaka, bersama Muhammad Lutfi, kini Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Cak Sardjono kini juga menjadi pemilik liquified petroleum gas (LPG) plant terbesar dari sisi kapasitas produksi di Indonesia. Begitu menjadi pengurus, Cak Sardjono langsung aktif. Dia hampir selalu hadir dalam acara yang diadakan pengurus. Dalam rapat kerja nasional PP IKA ITS akhir tahun lalu di Bandung, Jawa Barat lalu, di tengah kesibukannya yang tinggi, Cak Sardjono mengikuti rapat hingga menjelang penutupan. Untuk mengetahui kiprah Cak Sardjono baik di IKA ITS maupun di dunia kerja, wartawan majalah IKA ITS, Kelik Dewanto dan Ahmad Thonthowi, mewawancarinya di kantornya, di Gedung Artha Graha Lantai 6, Kawasan Pusat Bisnis Sudirman, Jakarta Selatan pada pertengahan Januari lalu.
Sardjono masuk ke Teknik Kimia pada tahun 1981, sebagai mahasiswa pindahan dari Universitas Diponegoro, Semarang. Setelah menyelesaikan kuliah tahun 1986, Sardjono muda bekerja di PT Petrokimia Gresik pada tahun 1987-1988. Setelah itu, bekerja di PT Kelian Equatorial Mining (KEM) selama 1,5 tahun sebagai metallurgist. Sardjono muda terus berkiprah. Tahun 1993, Sardjono mendirikan PT Mahaka antara lain bersama dengan M. Lutfi (kini, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal – BKPM), Wisnu Wardana, dan Erick Tohir (kini Direktur Utama TV One). Melalui PT Mahaka ini, Sardjono mengajukan proposal pembangunan pabrik kapur hidrat ke PT Freeport Indonesia.
Setelah proyek di Freeport dengan nilai investasi US$37 juta dolar AS selesai, Sardjono memutuskan keluar dari Mahaka. Dia masuk ke bisnis nikel melalui perusahaan milik sendiri, PT Saya ajukan proposal pembangunan pabrik kapur hidrat dengan teknologi modern ke Kelian. Kapurnya akan terbakar sempurna. Saya dapat teknologi tersebut, setelah keliling Eropa dan bertemu dengan perusahaan kapur hidrat terbesar di dunia. Tapi, Kelian tidak mau. Akhirnya, saya keluar dari Kelian, dan proposal saya tawarkan kemana-mana. Akhirnya, saya mendirikan Mahaka itu, agar proposal lebih bisa diterima. Mengapa tertarik terjun ke bisnis LPG? Saat itu, tahun 2001, bahan bakar LPG hanya dihasilkan dari minyak mentah sebagai produk samping kilang pengolahan bahan bakar minyak. Gas alam yang juga mengandung LPG, masih kurang disentuh. Kamilah yang pertama kali mengembangkan LPG dari gas alam. Pertimbangan lainnya? Kami melihat pertumbuhan permintaan elpiji di perkotaan mencapai angka yang cukup bagus yakni 4,5 persen. Adapun pasokan LPG dari dalam negeri belum memadai. Saat 2001 itu, produksi LPG dari dalam negeri masih sekitar satu juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan mencapai dua juta ton. Jadi, itu alasannya masuk ke bisnis LPG? Ya. Kami melalui PT Yudhistira Haka Perkasa, (Cak Sardjono menjadi Presiden Direktur) mengusulkan kerja sama pengembangan LPG dari gas alam kepada PT Pertamina (Persero) yang menjadi satu-satunya pemain LPG. Setelah dilakukan tender dengan 37 peserta, Pertamina menetapkan kami sebagai pemenang. Kilang LPG akhirnya dibangun di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat dengan nilai investasi US$17 juta. Bagaimana pola kerja samanya dengan Pertamina? Memakai sistem BOO (built, operate, own). Jadi, investasi kami yang lakukan, sedang Pertamina selain memasok bahan baku berupa gas alam, juga mengambil produk LPG-nya. Kami hanya dibayar berdasarkan biaya proses. Pasokan gas yang masuk mencapai 20 MMSCFD dengan produk 140 ton LPG per hari. Tahun 2003, kilang LPG Cilamaya mulai berproduksi. Peluangnya semakin bagus ya setelah adanya program konversi? Benar. Pertumbuhan permintaan LPG jadi makin tinggi. Tahun 2009 ini, kebutuhan diperkirakan mencapai empat juta ton. Namun, produksi dalam negeri diprediksi hanya 1,8 juta ton. Pada 2006-2007 seiring dimulainya program konversi, kami kembangkan lagi LPG bekerja sama dengan PT Odira Energy di Tambun, Bekasi. Namun, dalam proyek itu kami hanya menyertakan saham yang tidak terlalu besar. Selanjutnya? Kami melalui Media Energi Group mengembangkan kilang LPG berkapasitas yang lebih besar lagi, bekerja sama kembali dengan Pertamina. Dibangun di Gresik, Jawa Timur sejak 2006. Mulai November 2008 sudah berproduksi sebesar 180 ton per hari. Berbeda dengan Cilamaya, di Gresik yang bernilai investasi US$45 juta, produk LPG-nya menjadi milik kami. Produk LPG sebagian besar dibeli Petredec, dan lainnya oleh Pertamina. Selain LPG, apa lagi produk yang dihasilkan kilang Gresik? Kilang Gresik dengan areal seluas lima hektare juga menghasilkan produk lean gas yang mengandung unsur C1 dan C2, dan disalurkan ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Gresik milik PT PLN (Persero). Pasokan gas yang mencapai 46 MMSCFD ini menghemat pemakaian BBM pembangkit, sehingga membantu pemerintah dalam menekan subsidi. Perbedaan dengan kilang sebelumnya? Di Gresik, kami juga bangun fasilitas bongkar muat yang mengalirkan LPG langsung ke kapal. Kami menjadi satu-satunya yang mempunyai fasilitas tersebut. Kami juga merencanakan pembangunan kilang tahap kedua di lokasi yang sama. Selain LPG, ada investasi lainnya? Kami melalui Media Energi Group juga melakukan investasi tiga stasiun kompresor senilai US$60 juta. Kompresor dibangun di kompleks PLTGU Muara Tawar, yang akan meningkatkan tekanan gas sebanyak 350 MMSCFD, sebelum masuk ke pembangkit. stasiun kompresor unit pertama sudah selesai September 2008, stasiun kedua dijadwalkan pada Maret 2009, dan ketiga akan dimulai dibangun Februari ini. PLN akan membayar setiap volume gas yang dipompakan. Kompresor ini mempunyai peranan penting, sebab PLTGU Muara Tawar tidak bisa beroperasi kalau kompresor ini tidak jalan. Artinya, kalau tidak beroperasi, maka akan ada black out. Selanjutnya, proyek apa lagi yang mau digarap? Kami melihat kebutuhan LPG tidak akan mampu ditutupi dari produksi di dalam negeri. Indonesia akan terus mengimpor, dan itu menyebabkan kerugian bagi negara. Kami berpikir, kenapa pemerintah tidak mengembangkan dimetil etil eter (DME), yang bisa menjadi substitusi LPG, karena memiliki kesetaraan karakteristik. Apakah hanya DME sebagai pengganti LPG? Tidak ada jalan lain sebagai pengganti LPG, selain membangun DME. Kalau dari biofuel sulit, karena tergantung CPO yang cenderung dimanfaatkan buat pangan, dibandingkan bahan bakar. Selain itu, DME mempunyai dampak lingkungan yang lebih baik bila dibandingkan LPG, karena terbakar sempurna. Tidak ada CO dan CO2 dari DME. DME sudah dikembangkan secara massal di China dan Eropa. Dampaknya bila kita tidak segera kembangkan DME? Program konversi minyak tanah ke LPG tidak optimal, karena Indonesia selamanya akan mengimpor LPG. Produksi LPG baik dari minyak mentah maupun gas alam tidak akan cukup. Selain itu, DME bisa diproduksikan dalam waktu segera, sementara kalau membangun kilang BBM membutuhkan waktu lama, Sudah ada rencana mengembangkan DME? Sudah. Kami menggandeng perusahaan asal Korsel STX Company. Bersama STX, kami sudah siapkan investasi US$200 yang dapat memproduksikan DME hingga dengan satu juta ton per tahun. Dengan kapasitas tersebut, pemerintah tidak perlu mengimpor LPG. Kalau pemerintah setuju, maka dalam hitungan bulan, kami sudah investasi. Bagaimana dengan kajian yang menyatakan harga DME tidak ekonomis? Sebenarnya masalah pengembangan DME bukanlah keekonomian, tapi kemauan pemerintah menggunakannya. Sebab, harga jualnya hampir sama dengan LPG. Lalu, bahan bakunya yang berasal dari gas alam, dapat diperoleh dengan murah karena Indonesia memiliki cadangan gas alam yang cukup melimpah, sehingga DME bisa dibangun dengan kapasitas besar. Indonesia juga memiliki wilayah dengan cadangan gas yang cocok dikembangkan DME. Pemerintah bisa memetakan wilayah mana yang dikembangkan LNG, mana DME, mana buat listrik, pupuk, dan industri. Apa yang mesti dilakukan pemerintah? Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mesti lakukan kajian bahwa produk DME bisa dipakai sebagai pengganti LPG. Kami memang pernah menyampaikan soal DME ini ke pemerintah, namun saat itu tidak ada tindak lanjutnya. Waktu itu, kalau mau ekonomis, harga gas harus di bawah US$2 per MMBTU. Hanya saja sekarang ini, dengan harga gas sampai US$4 per MMBTU masih cukup ekonomis untuk mengembangkan DME. |
Terakhir
- Membangun Networking Melalui Buka Puasa Alumni ITS
- Selamat kepada Prof Dr. Ahmad Jazidie
- Komunitas Pemilik Otak Encer
- Career Opportunities - Datatel Indonesia
- Alfiyan, Pemenag Quiz Facealumni.com bln Juli 2010
- Ucapan Selamat, Permohonan Doa & Duka Cita
- Lowongan - PT. MAKMUR SEJAHTERA WISESA
- Penyebab Orang Mengantuk Saat Puasa
- Update per 18 Agustus Jadwal Buka Puasa Alumni ITS
- Lowongan - Korindo Group
Populer
- Kisah Sukses Pebisnis Muda Waralaba
- MENGENAL WAMENA DI KABUPATEN JAYAWIJAYA PROPINSI PAPUA
- Lihat Nasib lewat Tahi Lalat di Wajah
- Mendesain Struktur Perusahaan
- Asus P565, Smartphone dengan Processor Tercepat
- Pengurus Wilayah Jawa Timur
- Pengurus Wilayah Sulawesi Selatan
- Enaknya Jadi Orang Indonesia (Dan Bekerja di Jakarta)
- Ibu Menyusui Dilarang Makan Makanan Pedas?
- Pengurus Wilayah Jakarta Raya
Beasiswa
| Pengumuman Penerima Beasiswa IKA ITS 2010 26/01/2010 Antusiasme aktivis organisasi mahasiswa (Ormawa) ITS untuk mengikuti seleksi beasiswa 2010-2011 sang [ ... ] |
| Other Articles |
Event
Latest Events
- 11.03.2009 - 12.03.2009 Pembekalan Alumni ...
- 09.09.2009 - 09.09.2009 Buka Puasa Alumni ...
- 30.09.2009 Rapat Harian PP IK...
- 28.11.2009 | 17.00 TEMU ALUMNI ITS
- 26.03.2010 - 26.03.2010 Launching Kartu Al...
- 09.05.2010 | 06.30 Golf Tournament



